Senin, 11 Maret 2013

♥ COVER GIRL ♥ ~ Chapter 17 ~

Tittle: ♥ COVER GIRL ♥
Length: 20 Chapter
Author: @yasmiin2805 from fanbase @Fanfict_XOIX



♥ COVER GIRL ♥
~ Chapter 17 ~



Nicky masih panik di depan rumah Mala. Ia tak tau harus berbuat apa.
"gue kasih tau bang Agoy ga ya?! " gumam Nicky.
"aah ga! Bisa-bisa dia ikutan panik juga disana." urungnya kemudian.
Nicky pun segera pergi meninggalkan rumah Mala dan menuju kampus dengan tergesa-gesa.



Sesampainya di kampus, dicarinya Kiki dan Hendra.
"Ki! Hend!" panggil Nicky saat mendapati kedua sahabatnya itu sedang berteduh dibawah pohon rindang.
Nicky segera berlari menghampiri Kiki dan Hendra.
"kenapa sih loe Nick? Ribet banget pagi-pagi." tanya Hendra saat melihat Nicky yang masih terengal-engal.
"Mala Hend! Mala ga ada di rumahnya! Dan gue ngedapetin surat, katanya Mala ada sama orang ini!!" ujar Nicky sambil memperlihatkan surat yang teremas di tangannya.
"hah??! Mala ada sama ni orang? Emang dia siapa?" tanya Kiki.
"gue juga ga tau. Tapi kayanya itu si peneror yang selama ini neror dia. Dan sekarang si pelaku itu udah berani maen fisik! Sumpah gue panik banget pas dapetin surat ini!" sambung Nicky yang kali ini bermandikan keringat. (aaiisshhh seksinyaaaaa..! Eh, FOKUS!!)
"trus gimana Nick? Loe udah kasih tau bang Agoy?" tanya Hendra.
Nicky menggeleng. "belom Hend. Gue takut aja ngasih tau dia. Dia kan sekarang lagi fokus sama tugasnya, dan tugasnya itu yang bakal nentuin dia lulus atau engga di kuliahnya. Aah gue bingung nih!" paniknya.
"okeey Nick, tenang tenang. Kita pasti bantu nyari kok. Ntar gue minta tolong Ochi juga buat nyariin." kata Kiki menenangkan.
Nicky mengangguk.
Dirinya kini mulai tenang sedikit. Namun tetap saja, dalam hatinya merasa bersalah karna tak bisa menjaga amanah dari abangnya.



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Sementara itu pagi hari di lokasi wisata alam Agoy.
"bang, nape muka lu? Kayanya kusut bener." tanya Jajang pada Agoy.
Agoy mengangkat bahunya.
"gatau nih Jang. Perasaan gue ga enak aja pagi ini. Padahal semalem ga mimpiin loe kok." jawab Agoy.
Jajang mengerutkan dahinya.
"mimpiin gue? Emang kalo mimpiin gue perasaan jadi ga enak ya bang?" tanyanya polos.
Agoy hanya tertawa kecil melihat tingkah polos Jajang.
"eeh tapi beneran Jang. Perasaan gue ga enak nih. Kayanya ada yang ga beres deh." ujarnya lagi.
Ya, sedari malam tadi Agoy gelisah. Rasanya hatinya tak tenang, entah apa yang terjadi. Dan yang ada dalam pikirannya hanyalah, Mala.
"coba telpon aja bang si Nickynya. Supaya hati abang agak tenang dikit.." saran Jajang.
Agoy manggut-manggut, lalu segera menghubungi ponsel Nicky.


"ya Hallo bang." jawab Nicky dari seberang sana.
"hey Nick. Gimana kabar disana? Baik-baik aja kan?" tanya Agoy langsung.
"eeeng, iyaa baik kok. Kenapa bang?" tanya Nicky gugup.
"ga papa sih. Cuma gatau kenapa sih hati gue kaya resah gitu. Gue pikir ada sesuatu disana. Tapi semoga engga deh ye." ujar Agoy.
"eeeng, iya kok ga papa bang. Gue masuk kuliah dulu ya. Loe tenang aja disana, selesein tugas loe ga usah mikirin disini supaya tugas loe cepet selesai." kata Nicky.
"iyaa. Okeh godd luck for us. Bye." Agoy pun langsung menutup saluran teleponnya.


"Gimana bang?" tanya Jajang sambil bermain dengan ular-ular yang ia dapatkan selama perjalanan kemaren.
"kata Nicky sih gapapa. Tapi gue kok masih cemas gini ya?" ujar Agoy.
"yaudah baaang, tenangin aja dulu hatinya. Siapa tau abang cuma kecapean doang sampe perasaannya ga enak gitu. Niih maen sama uler gue aja bang, pasti tenang deh." Jajang menyodorkan ular kecil pada Agoy.
"diiihhh ogaaahh! Mending gue sarapan. Hiiiiyyy..." Agoy langsung berlari cepat meninggalkan Jajang.
Jajaaaang, Jajaaaang. Ckckck..




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~




Siangnya, Ochi dan Cessa sedang makan siang bareng di kantin, tanpa kehadiran cowo-cowo bertiga itu.
Ehem, sekarang Ochi dan Cessa jadi lebih deket loh gara-gara Cessa pacaran sama Hendra yang notabene sahabatnya Kiki.
"eeh Chi, aku boleh nanya sesuatu ga?" tanya Cessa pada Ochi yang asik menyantap kentang gorengnya.
"boleh lah Sa. Emang sejak kapan mau nanya aja ada larangannya?" jawab Ochi santai.
Cessa tersenyum, lalu melanjutkan perkataannya.
"aku cuma mau nanya Chi, emang kamu suka ya sama Kiki?" tanya Cessa polos.
"uhuukk uhuukk!!" Ochi seketika keselek mendengar pertanyaan Cessa.
"eeeh kenapa Chi? Pertanyaan aku salah ya?" tanya Cessa lagi sambil memberikan Ochi minum.
"eeeng ga kok ga salah. Emang kenapa sih nanya kaya gitu? Ada-ada aja lu ah." elak Ochi.
"yaa gapapa, abis aku penasaran aja ngeliat gelagat kamu kemaren, kayanya ga seneng gitu ngeliat Kiki Sama Devina deket dan becanda. Yaa aku pikir kamu emang suka sama Kiki. " terang Cessa.
"heh? Keliatan banget gitu?" tanya Ochi lagi.
Cessa mengangguk cepat.
Ochi menepuk keras jidatnya.
'parah! Sebegitu cemburunya kah gue sampe keliatan banget dari sikap gue?' gumamnya dalam hati.
"kenapa Chi? Eeeng jangan-jangan tebakan aku tadi bener ya?" lanjut Cessa menyelidiki.
Ochi garuk-garuk kepala, salah tingkah.


Melihat tingkah Ochi yang salah tingkah seperti itu, Cessa langsung menebak.
"bener Chi? Astagaaaa ternyata kamuuu....." belum sempat Cessa menyelesaikan omongannya, Ochi langsung mendekap mulut Cessa.
"ssstttt!!! Jangan keras-keras ngomongnya! Malu gue!" paniknya.
"hhmmpptt, hhmmpppttt!!" Cessa kesulitan berkata-kata gara-gara mulutnya dibekap Ochi.
"eeehh maap maap, spontan." Ochi langsung melepaskan tangannya dari mulut Ochi.
"huuufttt akhirnya bisa nafas juga." ujar Cessa lega.
"waah Chi aku bener-bener ga nyangka loh kamu suka sama Kiki. Padahal aku pikir kamu sama Kiki itu sahabatan doang." sambung Cessa.


"iiih apaan sih Cessa. Diem deh jangan dibicarain lagiii. Gue malu tau! Tar kita telpon-telponan aja yaa, jangan disini takutnya ada yang nguping!" ujar Ochi.
"wahahaa siipp siipp.. Ternyata cewe tomboy itu bisa jatuh cinta juga ya Chi? Baru tau loh." sambung Cessa.
"Cessa gue tinggal nih!" ancam Ochi.
"eeehh iya iyaaa maap abis gatel niiih lidah pengen ngegodain cewe tomboy ini hihihii.."
Ochi cemberut digoda terus menerus oleh Cessa.



"Ochi!" panggil Kiki dari seberang sana.
"sstt, Cessa, awas ya yang tadi diungkit lagi!" ancam Ochi sambil berbisik.
Cessa tersenyum sambil mengangguk pelan.
"apaa sih Ki? Sampe lari-lari gitu? Kangen banget ya sama gue sampe buru-buru banget mau ketemu gue?" ujar Ochi dengan pedenya.
"wooooo!" Kiki menoyor kepala Ochi.
"enak aja! Bukan gitu. Gue mau minta tolong sama loe. Loe tau Mala, si Cover Girl yang diidolain banget sama Nicky itu kan?" tanya Kiki.
Ochi mengangguk. "iyeee gue tau. Loe pernah cerita ke gue. Dia di teror kan? Trus kenapa?" tanya Ochi.
"nah! Tadi pagi dia diculik! Kayanya sama peneror itu deh." cerita Kiki.
"Hah?? Diculik???" Seru Ochi dan Cessa secara bersamaan.
"ciyeeee kompak." ujar Kiki sambil cengengesan.
ck! BLETAAKK!!
Ochi menjitak kepala Kiki saking geramnya.
"Fokus Ki!"
"ooh iya maap maap. Iyaaa jadi Mala tuh diculik, tadi pagi pas Nicky mau ngejemput Mapa, tau-tau dia udah ga ada. Mangkanya gue mau minta tolong sama loe buat ikut nyariin Mala. Loe mau kan?" pinta Kiki.
"iyaa iya gue pasti bantu kok."



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Sorenya di rumah Mila.
TOK TOK!
Nicky mengetuk pintu rumah Mila.
Tak lama, pintu tersebut dibuka.
"eehm sore mbo. Milanya ada?" tanya Nicky pada pembantu yang membukakan pintu.
"oooh non Mila ya? Emang den Nicky ga dikasih tau?" jawab pembantunya.
"hah? Dikasih tau apa mbo?" tanya Nicky kebingungan.
"gini den, non Mila sama kokonya hari ini berangkat liburan ke Jepang. Katanya mereka pengen istirahat sejenak dari rutinitas." cerita mboknya.
"hah?? Ke Jepang? Kok dia ga bilang aku ya? Eeeeng yaudah deh mbo, makasih ya."
Nicky pun segera meninggalkan rumah Mila.


"Mila ke Jepang? Tumben banget dia ga ngabarin. Apa emang dia udah bener-bener ga peduli lagi cinta gue ke dia? Atau dia ke Jepang untuk ngelupain gue? Ya Tuhaaaan!"




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



"Bobby! Tunggu!" panggil Devina saat melihat Bobby keluar dari kelasnya.
Bobby yang dipanggil segera berbalik ke belakang dan berhenti menunggu Devina tiba di hadapannya.
"kenapa Dev?" tanya Bobby.
"eeeng, aku mau minta maaf soal kemaren." kata Devina pelan sambil menundukkan kepalanya.
Bobby tersenyum manis melihat sosok bidadari di depannya itu. (haduuuuhhh BAYANGIIIINNN!!!)


"minta maaf untuk apaa, cantik?" tanya Bobby sambil mengangkat pelan dagu Devina hingga mata mereka saling bertatapan.
"ya aku minta maaf. Mungkin sikap aku kemaren bikin kamu sakit hati atau apalah. Aku ga mau nyakitin kamu lagi Bob. Aku udah terlalu sering bikin kamu sakit hati." ujar Devina dengan suara bergetar.
"hahaa engga kok Dev. Aku ga papaaa. Itu hak kamu mau pilih siapa. Kalo emang kamu milih Kiki, yaudah. Aku rela kok. Yang penting kamu bahagia sama pilihan kamu." kata Bobby dengan senyumnya yang tulus.
"tapi Bob, kamu tuh salah paham. Aku....."
"udahlah Dev. Kamu ga perlu bohong lagi untuk bikin aku seneng atau apalah itu. Yang penting aku cuma mau kamu bahagia sama Kiki, okeh. Dan kamu harus doain aku juga., supaya aku bisa dapet pengganti kamu di hati aku. Yaaa mungkin susah, susaaah banget. Tapi kamu doain aja yah." ujar Bobby lagi sambil mengelus pelan rambut Devina.
"Bob plis, aku makin merasa bersalah kalo kaya gini." kata Devina. Lagi-lagi air matanya mengalir di pipinya.
"loohh kok nangis siiihhh? Aduuuh jangan nangis doong, tar dikiranya aku lagi yang bikin kamu nangis. Udah yaa jangan nangis." Bobby mengusap pelan air mata Devina. (aahhh jangan di BAYANGIIIIINNNN!!!)



Bobby membawa Devina ke tempat duduk di taman dekat situ.
"Dev, aku beneran, ikhlas kok. Kamu nangis karna ga mau bikin aku sakit hati kan? Kenapa? Akunya aja ga nangis niiihh liaat.." Bobby membelalakkan matanya di depan Devina.
Devina tersenyum kecil melihat tingkah lucu Bobby tersebut.
"aku minta maaf ya Bob. Aku sama sekali ga ada maksud." kata Devina sekali lagi.
"iya iyaaaa udah aku maafin deeh daripada kamunya nangis mulu. Eeeng maap ya Dev, akunya ada kuliah lagi nih. Aku tinggal disini gapapa kan?" kata Bobby pamit diri.
Devina mengangguk sambil tersenyum.
"yaudah, aku duluan ya. Bye, cantik." Bobby pun pergi berjalan meninggalkan Devina.
"aku sayang kamu, Bob."




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~





"Nicky!!!" teriak seseorang dari luar rumah.
"siapa sih teriak-teriak Nick?" tanya Kiki yang kebetulan sedang berada di rumah Nicky bersama Hendra.
Nicky mengangkat bahunya, lalu menghampiri pintu depan.
Belum tiba ia di depan pintu, tiba-tiba...
BUUGG!!!
"aaaooowww!!" erang Nicky.
Kiki dan Hendra yang kaget mendengar teriakan Nicky langsung berlari menghampirinya.
"loh Nicky? Bang Agoy?"
"bang? Kenapa loe udah pulang? Katanya 3 hari? " tanya Nicky sambil memegangi pipinya yang ditonjok Agoy.
"alaaah diem loe Nick! Kenapa loe ga bilang sama gue kalo Mala diculik hah?? Kenapa loe nutup-nutupin hal ini dari gue??" tanya Agoy dengan suara yang lantang. Tampak sekali ia sangat emosi malam itu.
"sorry bang, gue bukannya ga mau ngasih tau loe, tapi gue takut semuanya itu bakal ngeganggu kegiatan loe disana." kata Nicky menyesal.
"tunggu bang, loe jangan emosian dulu dong. Nicky emang ga ngasih tau loe karna dia gamau loe terganggu." bela Kiki.
"diem lu Ki! Sekarang, Mala mana? Ga ada kan? Gimana kalo dia kenapa-kenapa? Gimana kalo dia disakitin sama penculik itu?? Hah?? Aarrgghhhhh!!!" Agoy membuang tas yang masih ia gendong itu ke lantai saking marahnya.



"bang sabar ya. Kita pasti bantu cari kok. Kita juga udah ngerahin beberapa temen kita kooo buat nyari Mala." ujar Hendra menenangkan Agoy.
"maap ya Bang. Gue tau kok gue salah, gue ga bisa jaga amanah loe. Mangkanya gue akan bertanggung jawab. Gue bakal nyari Mala sampe ketemu kok." sesal Nicky. Yaudahlah Nick. Emang udah takdir kok mesti kaya gini kejadiannya. Maaf ya tadi gue emosi sampe nonjok loe." ujar Agoy yang emosinya telah reda.
"iya bang, gue naklum kok. Maafin gue juga udah ga jagain Mala dengan bener."
Kedua adik kakak itu pun berjabat tangan.



"oiya bang, loe tau dari mana kalo Mala diculik? Siapa yang ngasih tau loe?" tanya Nicky kemudian.
Agoy mengeluarkan handphonenya, lalu memberikannya pada Nicky.
"nih baca."
Nicky pun membaca isi pesan di handphone tersebut.
"MALA ADA SAMA GUE. LOE TINGGAL TUNGGU MAYAT DIA AJA! "
"wiiihh sadiiiisss!! Dia kayanya bener-bener dendam banget deh sama Mala. Sampe-sampe dia pengen ngebunuh Mala gitu Astagfirullaaahhh.." prihatin Kiki.
"mangkanya itu, gue cemas banget. Abis dapet sms itu, gue sama Jajang langsung balik ke Kota. Parah kan?" ujar Agoy.
"yaudah, berarti kita harus fokus buat nyari Mala. Gue udah minta tolong sama orang-orang terdekat gue sama Mala kok buat nyari dia." kata Nicky.
"siapa aja?" tanya Agoy.
Yaaa temen-temen model dia, para crew, Iras, Kiki juga udah minta toling Ochi buat nyari." jawab Nicky.
"loe ga minta tolong sama Mila?" tanya Agoy lagi.
Nicky menggeleng. " ga bang. Mila sama kokonya lagi berlibur ke Jepang." jawab Nicky lesu.
"ke Jepang? Sejak kapan?" tanya Agoy.
"gatau. Menurut pembantunya sih pagi tadi udah berangkat."
"pagi? Kok bertepatan ya sama diculiknya Mala?" gumam Agoy dalam hati.




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~




Hari kini berganti hari. Namun keberadaan Mala belum juga diketahui.
Agoy yang sangat cemas dan memprihatinkan Mala itu sudah mengerahkan teman-temannya di segala penjuru untuk mencari Mala, namun tak juga membantu.
Begitu pula Nick. Bahkan Nicky telah meminta bantuan pada Detektif untuk membantunya. (tenang, ini Detektif beneran kok, bukan Detektif Conan.)


"Nick, Goy, gimana nih? Mala belom juga diketemuin. Padahal ini udah hampir seminggu." kata Iras saat mereka berlima beristirahat setelah seharian mencari Mala.
"mangkanya itu Ras. Gue makin panik sama keberadaan dia. Gimana kalo dia ga dikasih makan? Gimana kalo dia ditelantarin? Kan kasian." ujar Nicky.
"dan lagi, si pelaku juga ga ngehubungin kita buat ngabarin keadaan Mala. Makin bikin cemas kan?" sambung Agoy.
Nicky dan Iras mengangguk bersamaan.
"dia pinter banget ya nyembunyiin identitasnya. Sampe detektif gue pun ga bisa ngedapetin jejak dia, bener-bener dah."
"atau jangan-jangan, Mala dibawa ke luar negeri sama si pelaku?" selidik Iras.
"luar Negeri?" tanya Nicky polos.
Agoy pun menatap Nicky dengan tatapan yang tajam.
"iya, luar negeri. Contohnya, Jepang?" selidik Agoy dengan penuh curiga.
"Jepang? Weeiistt tunggu bang. Jangan bilang loe curiga sama, Mila?" tanya Nicky.
Agoy mengangguk. "sorry Nick, gue dari dulu emang curiga sama dia."




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



"sayang, Malanya gimana? Udah ada kabar?" tanya Cessa siang itu pada Hendra saat mereka sedang duduk-duduk di taman.
"belom Sa. Malah jejaknya makin ga ketauan. Si Nicky sama bang Agoy makin cemas gitu, kasian lah." jawab Hendra.
"iyaa. Ternyata jadi artis tuh ga se enak yang aku bayangin. Kirain mereka dengan bebas bisa hidup gimana aja, ternyata mereka lebih terkekang daripada kita."
Hendra ngangguk-ngangguk mendengar penuturan pacarnya itu.
"iyaa emang Sa. Tapii kamu ga perlu jadi artis kok kalo mau hidup bebas. Cukup hidup di hati aku, dan kamu akan bebas mencintai aku sesuka kamu." ujar Hendra sambil memegang tangan Cessa dan meletakkan di dadanya. (weeiitss weeiittsss jangan di BAYANGIIINNN!! mesra banget!!)
Cessa tersipu malu mendengar rayuan Hendra.
"Hendra iiih bisa ajaaaa."


"eeh eeh Sa, aku cemburu nih!" seru Hendra tiba-tiba.
"hah? Cemburu kenapaaa?" Cessa heran melihat perubahan sifat Hendra yang cepat.
"aku cemburu. Aku ngeliat ada cowo yang lagi jatuh cinta sama kamu. Itu jatuh cintanya banget banget banget!!" sambung Hendra.
"hah? Siapa Hend? Ya ampun, aku bener-bener gatau siapa cowo itu. Dan kamu harus percaya sama aku, aku cuma cinta sama kamu kok." ujar Cessa panik.
Hendra menatap dalam-dalam mata Cessa, membuat Cessa gugup setengah mati.
"aku liat cowo itu, dari bola mata kamu. Sekarang, matanya sedang menatap mata kamu, dengan dalam dan penuh cinta." ujar Hendra tak berkedip.
Bisakah kalian tebak, siapa lelaki itu? ;)




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



"gue ga nyangka Bang Agoy sama Iras nyurigain Mila. Emang mereka kira Mila sejahat itu sampe dia mau ngebunuh anak orang? Gue tau Mila, gue tau dia. Walaupun dia posesif, cemburuan, manja, tapi dia ga mungkin ngebunuh orang. Aaarrgghh!!!!" Nicky menarik rambutnya sendiri. Ia pusing memikirkan kejadian ini. Mulai dari pisahnya ia dengan Mila, diculiknya Mala, sampe sekarang orang yang ia sayang harus dituduh sebagai penculik sekaligus peneror.
"sorry Nick, bukan maksud gue mau nuduh Mila, tapi gue curiga aja sama dia. Terlalu benyak kebetulan yang muncul antara si pelaku sama Mila. Jadi ga ada alasan gue ga curiga sama Mila. Bahkan, bukan cuma gue kan yang curiga sama dia? Iras pun." sahut Agoy tiba-tiba yang nongol dari belakangnya.
"yaaa apa sih bang kebetulan yang loe maksud itu? " tanya Nicky penasaran.
"huufftt.." Agoy menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjelaskannya pada Nicky.



"gini Nick. Pas loe deket sama Mala ini kan, si Mila jadi terlalu posesif gitu? Trus, pas loe putus sama dia, teror makin menjadi. Dia juga terang-terangan bilang sama loe kalo dia cemburu sama Mala, bahkan itu yang bikin kalian putus. Sekarang, Mala menghilang, Mila pun hilang."
"Mila ke Jepang bang, Mila ga ilang!" potong Nicky geram.
"yaaaa okelaah Mila ke Jepang. Tapi apa bener ke Jepang? Siapa tau dia cuma 'berpura-pura' ke Jepang. Yaaa gatau siih yaaa gue tau su'udzon itu ga boleh, tapi apa boleh buat Nick. Gue ga mau kehilangan orang yang gue sayang, apalagi kehilangannya dengan cara konyol kaya gini." curhat Agoy.
"eeng, tadi loe bilang apa bang? 'orang yang gue sayang' ? Okeeeyy loe udah jatuh cinta banget kayanya sama Mala. Asal loe tau ya Bang, Mala tuh juga cinta sama loe. Tapiii dianya takut loe cuma anggep dia ade doang. Yaudaah, kalo si Mala udah ketemu, langsung nikahin aja bang! Umur loe udah tua, udah cocok buat nikah!" kata Nicky semangat.
"woooo tuanya itu gausah disebut! Hahahaa yaudah yang penting kita semangat dulu ya nyari Malanya. Semoha dia ketemu dengan semangat." doa Agoy.
"dan gue yakin, bukan Mila pelakunya." sambung Nicky.




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Pagi harinya di rumah Cessa.
"Sa, hari ini kamu mau kemana?" tanya Rheina pada Cessa yang sedang bersiap menuju kampus.
"cuma ngampus doang kayanya ka, tapii gatau juga siih kalo abis ngampus si Hendra ngajakin jalan." jawab Cessa.
"ciyeeee yang punya pacaar kerjanya jalan mulu." ledek Rheina.
"yee kaya kaka engga aja. Emang kenapa ka?" tanya Cessa.
"iniii, ntar siang aku sama Budi mau fitting baju, kalian ikut yuk. Sekalian fitting baju juga." tawar Rheina.
"hah?? Sekalian fitting baju? Aku sama Hendra?? Ga aahh ka! Aku sama Hendra kan belom lulus kuliah, masa mau dikawinin secepet ini sih? Lagian kaka sama Budi juga belom nikah, masa mau barengan sih!" tolak Cessa cepat.


"diiiihhh kamunya tuuuh kegeeran banget dah! Emangnya kaka bilang fitting baju huat nikah? Maksud kaka tuh, fitting baju buat jadi pendamping pas kaka sama Budi nikah nanti. Kan kalian yang bakal jadi pendamping kaka sama Budi, dan bajunya harus Samaan. Iiihhh geer niih. Jangan-jangan kamu lagii yang ngebet nikah hayoooo.." Rheina mencolek dagu Cessa.
Wajah Cessa merah padam dibikin kakanya yang cantik itu.
"iihh apa siih. Yaa kiraiiinn abis kaka kan suka ngegodain wooo.. Iyaaa tar insya Allah aku sama Hendra mampir. Udah aah ka, aku berangkat dulu ya." Cessa pun segera berpamitan pada Rheina.


Ketika Cessa membuka pintu rumahnya, ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang pas di depan pintu rumahnya, hanya berdiri mematung, tanpa mengetuk pintu.
"loh, Alwin??"



*To Be Continued*


Wow! Ngapain yaaaa Alwin dateng pagi-pagi buta ke rumah Cessa?
Apa jangan-jangan dia mau ngerebut Cessa lagi?
Lalu, apakah Mala akan ditemukan dengan selamat?
Okeeeehhh kalian harus tunggu jawabannya di Chapter berikutnya, wohooooo :p


Thanks for reading, I am waiting your comment.
Ini ngetiknya cape looohhh kalo komentnya pendek tar aku kasih sengat ubur-ubur!!



♥ Xowners_PALU ♥
♥ Fanfict_XOIX ♥





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar